Kisah Kembar Beda Agama, Satu Berkeluarga yang Lain Hidup Membiara

oleh
Kedua wanita kembar ini tumbuh dan memilih cara yang berbeda dalam hal keyakinan. Satu memilih Islam sebagai jalan hidupnya dan satunya mengabdikan diri sebagai seorang biarawati Katolik di Konggregasi PBHK dan sekarang berkarya di Marauke, Papua. (Foto: Tribunnews.com)

JAKARTA – Perbedaan agama dan keyakinan tidak menjadi alasan untuk berseteru, saling bermusuhan, membenci, menghujat, saling mengkafirkan dan hidup tidak harmonis.

Perbedaan justru merupakan jembatan untuk hidup bersama. Perbedaan sejatinya menjadi sebuah kesempatan untuk saling mengisi kekurangan atau ketidaklengkapan satu sama lain.

Pada tahap ini, perbedaan menjadi sebuah kekayaan dan sesuatu yang indah. Syaratnya, ada kesediaan untuk menerima perbedaan, dan mengakui kekurangan. Setelah itu, ada keterbukaan hati untuk merima orang lain seraya memberi diri kepada orang lain.

Jika kesediaan itu terbentuk, maka perbedaan suku, agama ras, dan golongan (SARA) bukan menjadi masalah dalam hidup bersama.

Berbicara soal kebebasan hidup dan toleransi beragama, ada sebuah cerita menarik dari sepasang saudara kembar. Keduanya kini menginjak usia paruh baya.

Kedua wanita kembar ini tumbuh dan memilih cara yang berbeda dalam hal keyakinan. Satu memilih Islam sebagai jalan hidupnya dan yang lain mengabdikan diri sebagai seorang biarawati Katolik di Konggregasi PBHK dan berkarya di Marauke, Papua.

Meski keduanya memilih jalan berbeda dalam hal keyakinan, hal itu tidak mempengaruhi hubungan keduanya. Mereka akur, harmonis dan tetap menyayangi satu sama lain.

Kisah keduanya viral dan menjadi pembicaraan di media sosial, setelah akun Facebook Bernadus Yohanes Raldy Doy membagikannya ke sejumlah media sosial.

Komentar positif muncul terkait kerukunan antara saudara kembar yang berbeda keyakinan itu.

Pemilik akun Facebook Hermain Hidayat misalnya menulis, “Subhanallah..Semoga ini contoh nyata persaudaraan antar umat beragama yg harmonis di NKRI..Aamiin..”.

Hal senanda diungkapkan akun Jan Weslyn Purba Tambak. Dia mengatakan bahwa kisah saudara kembar itu adalah contoh indahnya perbedaan. “Luar biasa ….. ternyata perbedaan keyakinan itu indah dan mempersatukan sesama, menjadi teladan buat kita semua, Amiiin,” ungkapnya.