Luhut Pandjaitan: Yang saya tahu, cinta itu harus dirawat…

oleh
Menteri Luhut Binsar Pandjaitan bersama Devi Br Simatupang. (Foto: ist)

JENDELANASIONAL.COM — Menteri Koordinator Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan baru saja merayakan ulang tahun perkawinannya yang ke-47, pada tanggal 27 November lalu. Usia itu tentu bukan waktu yang singkat untuk mempertahankannya.

Pertanyaanya yaitu bagaimana cara Menteri Luhut bisa mempertahankan cinta dan merawat perkawinannya itu dengan sang istri tercinta, Devi Pandjaitan boru Simatupang?

“Yang saya tahu, cinta itu harus dirawat. Kalau tidak dipelihara, ia akan luntur. Sampai usia saya yang sudah 71 tahun ini, saya masih melakukannya. Di hari Sabtu dan Minggu saya musti cari salah satu restoran untuk makan berdua bersama istri. Ya tentu tempat dan menunya harus ‘canggih’ untuk istri saya tercinta,” ujarnya dalam akun Facebook @luhutbinsar.pandjaitan pada 1 Desember 2018.

Berikut ini petikan langsung dari isi tulisan Menteri Luhut dalam Facebooknya itu:

 

SURAT CINTA DARI TENTARA PERBATASAN

Ditulis oleh Menko Luhut Binsar Pandjaitan di akun Facebook @luhutbinsar.pandjaitan pada 1 Desember 2018.

Kabarnya ada 2 pasangan artis sedang proses cerai, yang saya lupa namanya. Beginilah kalau punya staf milenial. Lewat obrolan di kantor, kadang otak saya disusupi konten-konten infotainment yang terus terang saya tidak ikuti.

Kemudian saya setengah dipaksa untuk posting tentang kehidupan berkeluarga. Tanya staf saya, “Pak, kok bisa menikah sampai 47 tahun. Nggak bosan apa?” Akhirnya saya menulis ini karena kebetulan baru 27 November lalu saya merayakan ulang tahun pernikahan saya bersama Devi Pandjaitan br Simatupang yang ke-47. Harapannya, semoga dapat memberi manfaat bagi para pasangan masa kini.

Kalau ditanya mengapa perceraian seperti menjadi tren saat ini dan apa alasannya, saya tidak tahu.

Yang saya tahu, cinta itu harus dirawat. Kalau tidak dipelihara, ia akan luntur.

Sampai usia saya yang sudah 71 tahun ini, saya masih melakukannya. Di hari Sabtu dan Minggu saya musti cari salah satu restoran untuk makan berdua bersama istri. Ya tentu tempat dan menunya harus ‘canggih’ untuk istri saya tercinta.

Di hari kerja pun kadang saya suka menyelinap diam-diam keluar kantor untuk makan berdua dengan istri di jam makan siang. Misalnya seperti pada saat foto ini diambil 27 November lalu. Kami merayakan ulang tahun pernikahan di sebuah rumah makan. Dan harus diagendakan khusus, karena jajaran di kantor atau rapat-rapat penting selalu siap menemani makan siang saya di kantor setiap hari kerja.

Selain itu, saya juga sering berkirim pesan WA yang selalu dibacanya meski kadang tidak dibalas. Yang penting bagi saya, istri selalu tahu saya sedang di mana.

Bicara tentang teknologi zaman now, sebenarnya memudahkan komunikasi kita dengan pasangan. Tidak seperti zaman old saat saya muda dulu. Bayangkan, kalau Anda adalah tentara yang harus bertugas di daerah perbatasan Kalimantan-Malaysia di tahun 1970-an.

Saya mengalami masa-masa itu, di mana harus bertugas di daerah operasi misalnya seperti di Desa Nanga Kantuk Kalimantan Barat, atau Kecamatan Paloh yang berbatasan langsung dengan Sarawak. Waktu itu jaringan telepon saja belum tersedia. Maka, surat cintalah yang menjadi andalan.

Surat itu harus menempuh perjalanan panjang sebelum sampai ke tangan istri, begitu pula surat balasannya. Helikopter TNI adalah satu-satunya moda yang paling memungkinan untuk mengangkut surat cinta kami para prajurit yang bertugas di pelosok belantara perbatasan negara.

Setiap minggu saya rajin menulis surat. Bahkan kadang lebih sering dari itu, ketika rindu melanda. Tidak jarang setumpuk surat hasil menulis beberapa hari saya kirimkan akibat helikopter yang saya tunggu tak kunjung datang. Apa boleh buat, tidak ada cara lain untuk mengirim surat. Jalan di sana belum sebagus sekarang, sehingga waktu itu tidak mungkin dikirim lewat darat.

Ketika waktu berlalu, kami pun menikah di tahun 1971 dan akhirnya dikaruniai sampai 4 orang anak. Saya paham bahwa tidak pernah mudah menjadi istri seorang anggota TNI yang sering tugas operasi ke luar daerah. Maka dari itu, melihat anak-anak dan cucu-cucu saya tumbuh dengan baik, membuat saya merasa berhutang pada istri. Seorang yang cantik dan pintar, yang rela mengorbankan cita-cita pribadinya demi keluarga.

Hutang itu saya bayar sampai sekarang dengan berusaha menjadi seorang suami yang belajar menjaga komitmen. Tentu saya tidak sempurna, tapi sebagai laki-laki saya tahu kapan harus memimpin, kapan harus memperhatikan, kapan harus diam, mengalah, dan mendengar.

Orang bilang laki-laki pada dasarnya sulit menjaga kesetiaan. Tidak salah. Tapi pengalaman hidup mengajarkan pada saya bahwa seorang pria bisa belajar untuk berkomitmen, kalau dia mau.

Maka ketika dimintai tips oleh seorang staf di kantor, saya katakan bahwa laki-laki harus belajar menjaga pikiran, menjaga hati, dan menjaga waktu doa setiap hari. Dengan demikian usia pernikahanmu akan panjang.

Tidak perlu doa yang panjang-panjang. Doa kami saja setiap pagi hanya, “Tuhan berikan kami kekuatan berdua supaya tetap bisa hidup baik dan damai, merawat anak-anak kami merawat perkawinan kami.”

Kami tidak pernah meminta supaya dijadikan pasangan yang selalu se-iya sekata, karena itu tidak mungkin. Yang paling mungkin dilakukan dua insan adalah membiarkan waktu yang menguji apakah masing-masing mampu menjaga egonya atas nama cinta.

Demikian tulisan saya kali ini yang banyak menggunakan perasaan karena bicara tentang cinta. Lain seperti saat kita bicara tentang ekonomi nasional atau konsep poros maritim dunia yang harus banyak berdasarkan data. Tapi kalau bicara tentang cinta, tidak bisa pakai data.

Semoga bermanfaat untuk adik-adik atau anak-anakku yang membaca postingan kali ini.

Selamat berakhir pekan, selamat menemukan dan memelihara cinta. (Ryman)