Pesan Natal PGI dan KWI 2018, Perwujudan HAM Akan Membuat Hidup Lebih Manusiawi

oleh
Pesan Natal 2018 oleh PGI dan KWI. (Foto: Ist)

JENDELANASIONAL.COM — Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI) dan Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) kembali menyampaikan Pesan Natal Bersama tahun 2018. Pesan Natal bersama yang bertajuk “Yesus Kristus Hikmat Bagi Kita” itu dikeluarkan dalam surat tertanggal 14 November 2018, dan ditandatangani oleh Ketua PGI, Pdt. Dr. Henriette T.Hutabarat-Lebang dan Sekretaris Umum PGI, Pdt Gomar Gultom, dan Ketua KWI Mgr Ignatius Suharyo dan Sekretaris Jendral KWI Mgr Antonius Bunjamin, OSC.

Pada bagian awal surat tersebut, PGI dan KWI mengungkapkan sukacita Natal, karena Tuhan menyatakan kasih kepada manusia dengan mengutus Anak-Nya. “Setiap kali merayakan Natal, kita bersukacita atas kelahiran Yesus. Peristiwa ini sungguh menyatakan betapa besar kasih Allah kepada kita ‘sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal”,” demikian pesan tersebut.

Dalam pesan Natal kali ini, PGI dan KWI secara khusus menyoroti penghormatan pada hak azasi manusia, sebuah tema yang juga menjadi tema sidang Sidang Sinodal KWI 2018 pada 5-14 November 2018 di Bandung. “Hak asasi manusia adalah hak dasar yang melekat yang dianugerahkan Allah kepada setiap orang. Perwujudan HAM secara baik dan benar membuat hidup secara manusiawi,” demikian isi pesan Natal tersebut.

Menurut PGI dan KWI, pemerintahan Preside Joko Widodo-Jusuf Kalla telah serius menangani persoalan HAM di Indonesia. “Kita patut bersyukur kepada Allah karena bangsa Indonesia menjunjung tinggi HAM. Kita pantas berterimakasih kepada pemerintah yang telah berusaha menangani masalah HAM secara serius,” isi pesan Natal tersebut.

Sekalipun demikian, persoalan HAM masih terjadi di sejumlah tempat. Pelanggaran HAM berat di masa lalu belum selesai secara tuntas. Hak hidup layak di bidang ekonomi, sosial, dan budaya yang berkaitan dengan keamanan dan kenyamanan hidup masih terganggu di beberapa daerah. Demikian juga kebebasan berbicara dan berujar dikacaukan oleh maraknya ujaran kebencian dan berita bohong yang kadang disertai kekerasan baik secara fisik maupun psikis.

Selain itu, ancaman, pengrusakan, dan penutupan rumah ibadat masih terjadi. Ijin mendirikan rumah ibadat masih tersendat. Eksploitasi alam berlebihan dan transaksi penjualan tanah masih merugikan masyarakat tertentu. Hak ekologis untuk menikmati lingkungan yang sehat tidak sepenuhnya dirasakan terutama oleh kalangan masyarakat sederhana karena pencemaran air, tanah, dan udara.

Terkait pemilihan presiden dan pemilihan anggota legislatif 2019, PGI dan KWI mengajak para calon untuk menyadari panggilan sebagai pribadi berhikmat yang dipilih untuk melayani bukan untuk dilayani. Perilaku pemimpin yang koruptif telah merusak kesadaran moral masyarakat seolah jalan pintas yang tidak pantas itu adalah cara cepat mencapai keberhasilan.

“Tindakan koruptif sering berhubungan dengan pelanggaran HAM. Untuk itu, kita membutuhkan pemimpin dan wakil rakyat yang penuh hikmat. Hal ini sejalan dengan sila ke-4 Pancasila, ‘Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat ke-bijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan’,” demikian isi pesan Natal tersebut.

Di akhir pesannya, PGI dan KWI mengajak umat agar merayakan Natal bukan hanya dengan nyanyian dan pujian saja, tetapi juga dengan upaya konkret untuk hidup dalam hikmat Allah. “Kita diajak untuk membela hak-hak asasi manusia sebagai ungkapan kewajiban asasi manusia. Perayaan kelahiran Yesus, Sang Juruselamat, menjadi saat dan kesempatan untuk memahami hakikat HAM secara baik dan benar, menyadari luhurnya martabat manusia, dan pentingnya gerakan penghormatan hak asasi manusia,” demikian isi pesan Natal tersebut. (Ryman)