Bersamaan Aksi Hari HAM dan Peduli Semeru, PKL Malioboro Suarakan Tolak Relokasi

Paguyuban pedagang kaki lima (PKL) di kawasan Jalan Malioboro menggelar aksi solidaritas bagi korban erupsi Gunung Semeru sembari memperingati hari Hak Asasi Manusia di Malioboro, Jumat, 10 Desember 2021. Para PKL menggalang donasi dengan berjalan dari ujung utara hingga selatan Malioboro dari para pedagang dan juga pengunjung Malioboro.

“Sebagai PKL, kami mengerti betul arti kesusahan dan kesulitan yang hari ini sedang menghimpit saudara kami yang menjadi korban erupsi Semeru di Lumajang,” kata koordinator aksi PKL Malioboro Yati Dimanto.

Yati mengatakan sebagai PKL, mereka mengakui juga akrab hidup dengan kesusahan dan kesulitan. “Terakhir, akibat pandemi Covid yang berkunjung datang,” kata dia.

Di samping solidaritas untuk korban erupsi Semeru, para PKL itu mengungkap bahwa anak-anak mereka yang masih bersekolah menitip pesan agar para orang tuanya hari ini turut ikut memperingati hari Hak Asasi Manusia. “Hari ini menjadi hak sipil untuk bebas dan dilindungi dalam berserikat dan menyampaikan pendapat. Hak ekonomi, sosial, dan budaya untuk dilindungi dalam bekerja dan berusaha agar dapat berpenghidupan yang layak,” kata Yati.

“Hak yang kami rasakan sangat dilindungi oleh pengambil kebijakan di Yogyakarta. Sehingga, selama berpuluh tahun, sebagai PKL dan rakyat kecil, kami bisa berkumpul, menyuarakan aspirasi, dan berjualan di pinggir jalan Malioboro dengan nyaman,” tambah Yati.

Namun rencana relokasi PKL yang akan dilakukan Pemerintah Yogyakarta pada Januari 2022 nanti telah mengusik kenyamanan itu. Sehingga, pada hari ini para PKL menyerukan penolakannya atas rencana itu dan meluncurkan sebuah tanda berupa PIN betulis ‘Malioboro Indah Tanpa Memindah’.

“PIN ini penanda kesiapan kami di tata sedemikian rupa, tanpa dipindah. Kami meyakini sepenuhnya bahwa kami dan Malioboro dapat dibuat indah tanpa memindah,” kata Yati.

Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X sebelumnya menjelaskan terkait rencana relokasi PKL Malioboro ke gedung eks Bioskop Indra atau depan Pasar Beringharjo sudah dipersiapkan sejak lama untuk menata ikon Yogyakarta itu. “Soal rencana (relokasi PKL) itu kan sudah lama, sejak mulai dibangun (pusat UMKM) di eks Bisokop Indra bagi PKL,” kata Sultan.

Sultan menuturkan penataan kawasan Malioboro untuk mewujudkan sumbu filosofi di kawasan Malioboro sebagai warisan dunia. Sebab, sumbu filosofi Yogya yang memanjang dari Tugu Jogja-Malioboro-Keraton-Panggung Krapyak telah diajukan menjadi salah satu Warisan Budaya Dunia Tak Benda UNESCO.

“Kami membangun kerja sama dengan UNESCO untuk penataan sumbu filosofis Yogya itu,” kata Sultan.

Sultan pun meminta kalangan PKL juga menyadari jika lokasi yang mereka tempati selama ini merupakan lahan milik pertokoan di kawasan Malioboro sehingga wajar juga kemudian dikembalikan. “Sebenarnya tempat jualan itu PKL itu kan milik pertokoan, bukan milik pemerintah daerah. Karena pemda trotoarnya sudah untuk jalur lambat pedestrian, masak tidak dikembalikan, kan pindahnya juga tetap di kawasan Malioboro,” kata Sultan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.