Gejala dan Faktor Risiko Pradiabetes yang Perlu Anda Ketahui

Pradiabetes merupakan tingginya kadar gula darah (tidak normal), namun tidak cukup tinggi untuk mencapai kondisi diabetes tipe 2. Saat mengalami pradiabetes, seseorang lebih rentan menuju kondisi diabetes tipe 2, maka itu penting mengenali gejala dan faktor risiko pradiabetes berikut ini.

Dilansir dari mayoclinic.org, pradiabetes biasanya tidak memiliki tanda atau gejala apa pun. Namun, salah satu kemungkinan tanda pradiabetes yaitu menggelapnya kulit di area tubuh tertentu (mencakup leher, ketiak, siku, lutut, dan buku-buku jari).

Bagaimana dengan faktor risiko pradiabetes?

Melansir dari webmd.com, seseorang lebih rentan terkena pradiabetes apabila berusia di atas 45 tahun, banyak makan daging merah dan olahannya, minum minuman manis, jarang makan buah, sayuran, kacang-kacangan, dan biji-bijian.

Selain itu mengalami kelebihan berat badan atau obesitas, memiliki kolesterol tinggi, trigliserida tinggi, kolesterol HDL rendah, dan kolesterol LDL tinggi, jarang berolahraga, memiliki diabetes gestasional atau melahirkan bayi dengan berat lebih dari 9 pon, memiliki sindrom ovarium polikistik, dan memiliki masalah tidur (seperti sleep apnea).

Bagaimana mendiagnosa pradiabetes?

Dilansir dari medlineplus.gov, pradiabetes dapat didiagnosa dengan beberapa cara berikut ini:

1. Melakukan tes glukosa plasma puasa (FPG), yang mengukur gula darah pada satu titik waktu. Sebelum dilakukan tes, pasien diwajibkan berpuasa (tidak makan atau minum) minimal selama 8 jam.

Nantinya hasil tes diberikan dalam mg/dL (miligram per desiliter), meliputi: Level normal adalah 99 atau lebih rendah, kondisi pradiabetes ialah 100 hingga 125, dan kondisi diabetes tipe 2 sebesar 126 ke atas.

2. Melakukan tes A1C yang mengukur gula darah rata-rata selama 3 bulan terakhir. Hasil tes A1C diberikan sebagai persentase, semakin tinggi persentasenya, semakin tinggi kadar gula darah. Hasilnya, tingkat normal berada di bawah 5,7 persen, pradiabetes antara 5,7 hingga 6,4 persen, dan diabetes tipe 2 di atas 6,5 persen.

DELFI ANA HARAHAP

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.