Perbedaan Vaksinasi Booster Covid-19 di Amerika, Inggris, Australia

Mengantisipasi gelombang Covid-19 varian Omicron, Pemerintah Indonesia akan mempercepat vaksinasi booster untuk wilayah Jakarta dan sekitarnya. Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin dalam konferensi pers daring, Ahad, 16 Januari 2022, mengatakan percepatan itu dilakukan agar siap jika gelombang Omicron naik secara cepat.

Per 15 Januari 2022, kasus konfirmasi varian Omicron mencapai 748 kasus. Sebagian besar kasus Omicron di Indonesia adalah pelaku perjalanan luar negeri (PPLN). Secara kumulatif kasus PPLN paling banyak berasal dari Turki, Amerika Serikat, Malaysia, dan Uni Emirat Arab. Dari total 748 kasus, 155 di antaranya merupakan transmisi lokal.

Budi mengatakan sebagian besar, lebih dari 90 persen, transmisi lokal Omicron terjadi di Jakarta. “Jadi, kita memang harus mempersiapkan khusus DKI Jakarta sebagai medan perang pertama menghadapi Omicron dan kita harus memastikan bisa menangani perang menghadapi Omicron di DKI Jakarta,” ujar Budi.

Mantan Direktur WHO Asia Tenggara, Prof Tjandra Yoga Aditama, menjelaskan bahwa Badan Kesehatan Dunia (WHO) mendefinisikan vaksinasi booster adalah vaksinasi yang diberikan pada mereka yang sudah selesai mendapatkan vaksinasi Covid-19 primer, di mana dalam perjalanan waktu ternyata imunitas dan perlindungan kliniknya menjadi berkurang dan menjadi tidak sesuai dengan yang dibutuhkan. “Booster bertujuan mengembalikan efektivitas vaksin sehingga membaik kembali,” ujarnya dalam keterangan yang diterima Tempo, Senin, 17 Januari 2022.

Selain vaksinasi booster, kata Tjandra, juga ada vaksinasi tambahan (additional doses), yaitu pemberian vaksin yang mungkin dibutuhkan sebagai tambahan dari vaksinasi primer karena respons imun yang didapat dari vaksin primer ternyata tidaklah memadai, seperti pada mereka dengan gangguan imunologis (immunocompromised) tertentu, dan kadang-kadang juga mungkin pada sebagian orang usia lanjut. “Tujuan vaksinasi tambahan adalah meningkatkan respons imun sehingga dapat memberi perlindungan memadai terhadap penyakit,” ujarnya.

Sampai akhir 2021 WHO mencatat setidaknya ada 126 negara di dunia yang sudah memberi rekomendasi untuk vaksin booster atau tambahan, dan lebih dari 120 negara yang sudah mulai mengimplementasikannya.

Tjandra menjelaskan pelaksanaan vaksinasi booster di Amerika Serikat, Inggris dan Australia.

Amerika Serikat

CDC Amerika Serikat merekomendasikan vaksin booster Pfizer-BioNTech atau Moderna Covid-19 setidaknya lima bulan setelah pemberian vaksin primer mRNA vaccine (Pfizer-BioNTech atau Moderna), dan setidaknya dua bulan setelah pemberian vaksin primer Janssen/Johnson & Johnson. Kalau booster Pfizer-BioNTech atau Moderna tidak dapat diberikan maka pilihan lain adalah booster dengan vaksin Jansen/Johnson & Johnson.

Amerika Serikat juga merekomendasikan pemberian vaksin tambahan, waktunya setidaknya 28 hari sesudah vaksinasi primer pada pada orang lanjut usia yang membutuhkannya, dan mereka yang dengan gangguan imunologis sedang dan berat, yaitu:

“Akan baik kalau kita di Indonesia juga mempertimbangkan pemberian vaksinasi tambahan selain pemberian booster yang sudah dimulai,” ujar Tjandra.

Inggris

Inggris ada tiga jenis vaksin yang dapat digunakan sebagai booster, yaitu Pfizer, Moderna dan Oxford/AstraZeneca, tetapi memang lebih dianjurkan penggunaan vaksin mRNA, yaitu Pfizer atau Moderna sebagai booster, apapun jenis vaksin primer yang pernah diterima sebelumnya. Kalau karena alasan medik atau alergi maka seseorang tidak dapat disuntik vaksin Pfizer atau Moderna maka tentu dapat diberikan vaksin AstraZeneca.

Beberapa data penelitian di Inggris mengungkap soal vaksinasi booser. Penelitian dari “UK Health Security Agency” menyebutkan dua minggu sesudah pemberian booster maka level proteksi akan naik sampai 93,1 persen pada mereka yang vaksin primernya AstraZeneca dan naik menjadi 94 persen pada yang vaksin primernya adalah Pfizer. Sementara risiko masuk rumah sakit akibat infeksi Omicron turun 65 persen pada mereka yang sudah divaksin dua kali dan turun 81 persen pada yang sudah divaksin tiga kali.

Sementara penelitian lain dari Skotlandia menyebutkan mereka yang sudah mendapat vaksinasi dosis ketiga/booster memiliki risiko 57 persen lebih rendah untuk menunjukkan gejala-gejala sesudah terinfeksi Omicron.

Australia

Australian Technical Advisory Group on Immunization (ATAGI) memberi rekomendasi penggunaan vaksin Moderna dan Pfizer sebagai booster. Pihak otoritas kesehatan Australia baru akan menggunakan vaksin AstraZeneca sebagai booster pada mereka yang vaksin primernya adalah AstraZeneca dan ada dalam kontraindikasi untuk mendapat booster dengan vaksin mRNA.

Menurut Tjandra, secara umum pada dasarnya pemberian booster dengan vaksin mRNA memang untuk meningktatkan antibodi, yang disebut imunitas humoral, dan juga mengaktifkan sel T yang dikenal dengan imunitas seluler.

Beberapa negara juga menggunakan vaksin Moderna setengah dosis untuk pemberian booster karena efek proteksi boosternya tetap terjamin baik, dan tentunya juga jadinya dapat mencakup lebih banyak orang. Kebijakan di negara kita tentu sudah berdasar kajian oleh BPOM, ITAGI dan Kemenkes

Direktur Pasca Sarjana Universitas YARSI itu menambahkan, karena di dunia memang baru beberapa bulan ini digunakan pemberian vaksin booster maka sejauh ini dunia belum punya bukti ilmiah yang cukup kuat untuk menyatakan apakah nantinya diperlukan booster ulangan lagi, dan kalau diperlukan berapa lama jaraknya.

“Kita juga tahu bahwa sudah ada negara yang memulai pemberian vaksin Covid-19 dosis keempat pada warganya. Kita tunggu data ilmiah lebih lanjut yang tentunya menjadi dasar pengambilan kebijakan publik,” ujarnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.